Ruang Inspirasi

Cinta Pertama, Apakah dari Pandangan Pertama?

8 comments
Seringkali banyak yang beranggapan bahwa cinta pertama dari pandangan pertama. Apakah benar demikian?. Mungkin iya, bagi beberapa orang, dan tidak untuk bagian yang lain. Seperti halnya saya, kata cinta pertama pada pandangan pertama itu tidak berlaku.

Qoute tentang cinta

Karena, setiap orang yang terlahir di dunia ini tidaklah sama. Setiap orang itu unik. Ya, masing-masing dari kita memiliki keunikan tersendiri. Entah itu dari segi fisik, pemikiran atau pandangan terhadap sesuatu. Misalnya saja tentang cinta ini, setiap orang, pasti memiliki penalaran yang berbeda.

Apa Arti Cinta?

Berbicara tentang arti cinta, saya pun tidak bisa mendefinisikannya secara gamblang. Karena menurut saya, definisi cinta memiliki arti juga makna yang dangat kompleks. Bagi saya sendiri, cinta adalah sebuah rasa yang dititipkan dari Tuhan yang Maha Cinta untuk semua makhluknya. Dengan adanya cinta, semua bisa hidup damai. Begitulah singkatnya.

Adanya Cinta Berawal Dari Pertemuan

Bagi saya, cinta pertama tidak datang hanya dengan sekilas pandangan pertama. Tetapi adanya cinta tentulah berawal dari adanya sebuah pertemuan yang kemudian menjalin komunikasi dan selanjutnya berkomitmen.

Seperti halnya ketika Tuhan menciptakan makhlukny dengan cinta. Lalu berkomumikasi kemudian terjadi sebuah komitmen antar keduanya.

Seperti dalam firman-Nya:
وَ اِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْۤ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَ اَشْهَدَهُمْ عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ ۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۗ قَا لُوْا بَلٰى  ۛ  شَهِدْنَا  ۛ  اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَ 

wa iz akhoza robbuka mim baniii aadama ming zhuhuurihim zurriyyatahum wa asy-hadahum 'alaaa angfusihim, a lastu birobbikum, qooluu balaa syahidnaa, ang taquuluu yaumal-qiyaamati innaa kunnaa 'an haazaa ghoofiliin

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,"" (QS. Al-A'raf 7: Ayat 172)

Pertemuan Saya dan Suami

Tahun 2011, adalah tahun dimana saya dan suami bertemu. Tepatnya saat awal perkuliahan, bukan saat masa orientasi atau saat nongkrong. Tetapi berawal dari keisengan sebuah teman yang baru saja menjadi teman dekat menanyakan hal yang konyol yaitu "siapa cowo yang disukai di kelas". Lalu entah mengapa, saya malah terpancing dan menahan gengsi. Padahal, semua cowo di kelas saat itu terlihat biasa saja. Meskipun memang banyak yang good looking.

Entah itu adalah masa yang disebut dengan (masih) masa pubertas atau bukan. Pada masa itu, saya berada pada masa yang mungkin disebut sedang galau karena baru saja merasakan putus hubungan dengan laki-laki yang menemani kemana pun hendak pergi atau hanya sekedar bersanda gurau melalu sms, telpon atau media sosial 8 bulan lamanya.

Saat pertanyaan itu terlontar, saya tidak ingin dibilang gagal move on. Akhirnya asal tunjuk seorang laki-laki yang nampak begitu pendiam, hingga dianggap saya benar-benar menyukai lelaki itu. Padahal dalam hati sudah berjanji tidak akan pernah mau menjalin hubungan dekat dengan lelaki (baca:pacaran) kecuali dia yang serius mau menikah dan saya harus tepati janji itu.

Namun, respon sekitar sungguh menakjubkan. Semua teman sekelas lambat laun menyebarkan rumor kalau saya memang dan sungguh menyukainya (baca:suami). Sampai pada satu titik dia yang terlebih dahulu menghubungi saya dengan dalih membeli pulsa. Yup, saya dulu pernah berjualan pulsa di kelas. (Setelah dikonfirmasi, kata suami, teman-teman banyak yang memberitahunya kalau saya menyukainya. Itu menjadi alasan kenapa dia memberanikan beli pulsa ke saya. Haha kocak emang).

Hingga tidak disadari, akhirnya kami pun benar-benar dekat. Sering mengirim pesan melalui sms (kala itu, saya masih belum update media sosial kecuali facebook). Kemudian saat ada BBM (blackbery massager) barulah beralih komunikasi melalui BBM. Sampai akhirnya beberapa kali pergi jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di Bandung bersama.

Sampai detik itu, saya hanya merasa dia seorang teman yang baik tanpa ada rasa apa pun. Namun, rumor semakin parah dan mereka mengira saya sudah resmi berpacaran. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk menjauhinya.

Tetapi entah mengapa selalu ada jalan untuk saya dan suami harus intens bertemu yakni seringkali satu kelompok dalam mengerjakan tugas. Suasana pun makin terasa tidak nyaman bagi saya kala itu, hingga rasanya saya tidak ingin lagi berada di kelas itu.

Cinta pertama pandangan pertama

Namun, ada hal lain yang memaksa untuk tetap bertahan dan segera lulus. Akhirnya, saya hanya fokus untuk segera selesai kuliah dan menghindari toxic pertemanan yang ada. 
Tanpa disadari, mungkin memang benar saya pernah memiliki rasa yang tidak biasa dengan suami saya waktu itu. Tetapi segera kuhempaskan jauh-jauh dan tetap kembali pada fokus.

Mungkin memang terdengar sadis. Saya tidak pernah memedulikan bagaimana perasaannya terhadap saya. Padahal, dia selalu ada saat saya butuh bantuan, saat saya butuh dijelaskan tentang materi, bahkan saat saya bingung untuk membuat media yang saya gunakan untuk skripsi.

Bagi saya, hubungan saya dengan dia hanya sebatas minta tolong dan terima kasih, tetapi mungkin versi dia berbeda. Sungguh, saat itu saya memang benar-benar banya terima kasih padanya dan saya pun tentu saja tidak ingin berpangku tangan dengan mencoba menawarkan bantuan juga atau sekedar suport supaya lulus bersama.

Tetapi respon yang saya terima berbeda. Dia berubah menjadi ketus dan entahlah, saya tidak mengerti saat itu. Saya hanya merasa sedih dan bingung harus bagaimana. Karena saat itu pun, muncul rumor baru kalau dia patah hati tersebab saya.

Katanya lagi, saya adalah penyebab dia tidak semangat untuk kuliah. Ya, memang, waktu itu saya sudah lelah dan tidak memedulikan apa pun kecuali lulus dan pergi sejauh-jauhnya.

Dipenghujung semester, hubungan saya benar-benar hanya sebatas mengerjakan tugas dan tugas, sampai pengerjaan skripsi. Tetapi sangat disayangkan, saat saya menanyakan tentang skripsinya dia hanya acuh bahkan terkesab marah.Hubungan kami pun benar-benar berakhir saat wisuda tiba.

Saya sudah tidak lagi bertemu dia. Terakhir bertemu adalah saat saya sidang skripsi. Itupun karena saya yang memintanya untuk datang.

Hubungan saya dan dia berakhir di tahun 2015. Saya tidak pernah tahu bagaimana keadaannya. Hanya sesekali mendengar kabar kalau dia tidak kunjung lulus. Kemudian mendapat kabar lagi dia sudah lulus dan bekerja di luar pulau. 
Anehnya, kabar itu datang begitu saja dari beberapa teman, padahal saya tidak pernah mencari tahu tentangnya.

Menikah Dengan Dia (kini suami) Sungguh Tidak Pernah Terbayangkan

Sungguh, masih tidak pernah menyangka bahwa ternyata saya berjodoh dengan suami. Dahulu, memang sama sekali saya tidak pernah membayangkan akan menikah dengannya. Melihat hubungan yang terjalin tidak begitu baik.

Saya pun merasa, dia tidak akan pernah bisa cocok dengan saya. Karakter yang sungguh berbeda, kepribadian yang berbanding terbalik, sifat dan segalanya banyak yang tidak sepemikiran dan sepaham dengan saya. Saya tidak bisa membayangkan kelak akan menjadi rumah tangga seperti apa jika sungguh dengannya. Oleh karenanya, saya pun selalu berkata "ah, mana mungkin!" atau "nggak, cocok" dan yang lainnya.

Namun, siapa yang mengira bahwa ternyata Tuhan sudah membuat skenario yang akhirnya saya berjodoh dengan suami saat ini.

Haaahh berbicara tentang cinta memang sangat panjang. Apalagi jika tentang cinta pertama yang katanya bisa datang dari pandangan pertama dan juga susah untuk lupa. Btw Sekian dulu ya ceritanya, besok-besok nyambung lagi. Hehe...

Semangat sehat kawan!.
Maftuha
Seorang istri dari laki-laki bernama Muhidin Sidiq yang saat ini aktif dalam dunia tulis menulis. Menerima job content writer lepas, sudah menerbitkan buku berjudul "Dia yang Pergi" dan "This is My Way" juga belasan antologi lainnya. Penyuka buku motivasi juga psikologi yang hobi nongkrong di tempat makan untuk merefreshkan pikiran.
Newest Older

Related Posts

8 comments

  1. Itulah yang dinamakan chemistry atau ikatan batin. Entah kenapa langsung klop dan jantung berdegup kencang. Padahal baru kenal. Sementara ke oranglain yang baru dikenal biasa saja hehe...

    ReplyDelete
  2. Waah kenapa ga dilanjutkan jadi sukaa baca kisah nyata gini, trus akhirnya bisa menjadi suami istri gimana? Ketemuan atau malah langsung di lamar bun?

    ReplyDelete
  3. Jodoh memang skenario Allah ya mba, ternyata teman sejurusan yang menjadi suaminya, padahal gak ada pacaran sama sekali :)

    ReplyDelete
  4. Nah kalau terbatas pada pandangan, gimana dong kalau orang tuna netra, atau orang kacamata yang sedang kehilangan kacamatanya.. jadi istilah itu bukan berarti salah tapi tidak sepenuhnya benar juga..

    ReplyDelete
  5. Cinta pertama tidak selalu dari pandangan pertama kalau menurut saya. Btw, kisah Mbak Maftuha unik ya ... saya penasaran dengan bagaimana suami sebelum pelamaran ... apakah tiba2 menghubungi Mbak? :)

    ReplyDelete
  6. Kalau udah jodoh, emang ya, mau ke manapun ya ujungnya sama orang itu. Namun jodoh itu memang misteri Ilahi. Hahaha.

    ReplyDelete
  7. Wah co cwiit deh kisah cintanya. Ky sinetron wkwk.. Udh ngejauh²in ternyata jadi juga suami istri. Itulah rahasia jodoh yaa

    ReplyDelete
  8. Aku makin penasaran dengan skenario Allah karena belum ketemu juga sama calon imam hidupku hihi, so sweet banget perjalanan cintanya mba 😃

    ReplyDelete

Post a Comment