header marita’s palace

Minder, Jangan!

10 comments
Wah keren, dia bisa kuliah di kampus ternama.
Wah keren, dia bisa lulus dengan predikat cumlaude.
Wah keren, dia udah jadi dosen aja.
Wah keren, dia udah punya rumah dan mobil.
Wah keren, dia udah ke luar negri.
Wah, wah, wah, wah, wah, wah,
Mau sampai kapan? Selalu mengagumi orang lain dan menjadi penonton kesuksesan orang lain? 

Kenapa harus menjadi penonton kalau bisa jadi seorang pemain. Bukankah semua berpeluang sama?

Jadi, tentukan sekarang juga bahwa 'aku bisa menjadi pemain!' 

Menjadi seorang penonton, memang begitu asik, bisa berkomentar sepuasnya dan terkadang ikut merasakan sensasinya. Tapi menjadi pemain jauh lebih terasa sensasinya, dan tentunya tak banyak komentar.

Minder, satu kata yang membunuh segala optimisme. Mengubah semua yang mungkin menjadi tak mungkin. Mengubah potensi menjadi gengsi dan satu kata yang pasti akan membunuh untuk berkembang, berhenti tiada arti.

Bukankan manusia adalah makhluk yang sempurna yang diciptakan-Nya?. Tuhan yang mengatakan bahwa manusia itu sempurna. Bukan dia tetanggamu saja, bukan temanmu saja, bukan orang-orang tertentu saja yang memiliki kesempurnaan itu. Dia menyebutkannya secara global bukan khusus. Selama menjadi manusia berarti masih menjadi makhluk yang paling sempurna komplit dengan akal serta memiliki potensi dan peluang yang sama.

Tapi, pada kenyataannya manusia menemukan apa yang dicapainya berbeda. Tak perlu bertanya kenapa, karena semua manusia yang berpikir pasti sudah mengetahui jawabannya.

Banyak faktor yang membuat manusia pada akhirnya berbeda dalam menjalani kehidupannya serta kesuksesannya. 

Tentu salah satu faktornya adalah lingkungan dimana manusia itu berkembang. 

Karena manusia tak bisa lepas dari sebuah lingkungan disebabkan label yang melekat dalam dirinya yaitu sebagai makhluk sosial. Manusia adalah makhluk sosial yang pasti akan membutuhkan yang lainnya untuk dapak bertahan hidup.

Lingkungan itu bermacam-macam. Ada lingkungan keluarga, lingkungan bermain dan lingkungan sekolah. Jika manusia sudah bertumbuh dewasa dan menjadi pekerja maka akan ada lingkungan kerja.

Semua yang disebutkan adalah salah satu faktor dalam berkembangnya kehidupan manusia. Selain itu, ada faktor lain yaitu faktor diri. Bisa jadi faktor lingkungan dengan diri seimbang 50:50, atau bisa jadi faktor lingkungan lebih besar dari pribadi pun sebaliknya. 

Hematnya begini "Jika A hidup dalam lingkungan yang positif kemudian dirinya juga sudah terinstal dengan hal-hal yang positif, maka A memiliki hidup yang seimbang" Tapi akan berbeda "Jika A hidup dalam lingkungan yang positif namun dalam dirinya sudah terinstal hal-hal negatif, maka lingkungan sebagus apapun tak akan mempengaruhi A"

Jadi, pada intinya semua dikembalikan kepada diri masing-masing. Mau terus menerus menjadi penonton melihat kesuksesan orang lain atau mulai menjadi pemain untuk mencapai kesuksesan itu.

Minder, jangan!. Katakan tidak untuk menjadi manusia yang minder. Percayalah, itu hanya akan membuat jiwa manusia menjadi miskin. Selalu haus akan nafsu tapi tak mau bersusah payah. 

Jangan menjadi manusia yang minder. Mulai saat ini, detik ini juga katakan terhadap diri bahwa 'aku adalah pemain' sutradaraku adalah yang terbaik, yakni Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Semesta Alam, dan Tiada Tuhan selain Dia. Dengan begitu, maka manusia itu Akan menjadi pemain yang luar biasa. Menggunakan segala potensi dan peluang secara maksimal. Menjadi manusia sempurna dan unggul dari makhluk lainnya.

So, menjadi manusia minder?, Jangan!.






Maftuha
Seorang istri dari laki-laki bernama Muhidin Sidiq yang saat ini aktif dalam dunia tulis menulis. Menerima job content writer lepas, sudah menerbitkan buku berjudul "Dia yang Pergi" dan "This is My Way" juga belasan antologi lainnya. Penyuka buku motivasi juga psikologi yang hobi nongkrong di tempat makan untuk merefreshkan pikiran.

Related Posts

10 comments

  1. Janan minder, semua ada waktunya..

    Semua akan kalah dengan sang waktu..

    Biarkan mengalir apa adanya, jika memang harus melaju cepat, ayo... Kalau harus melambat, why not ?

    Rahayu 🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Melaju cepat dan lambat...
      Kek lagi balapan ya kak 😅

      Delete
  2. Makanya sih aku nggak suka pamer. Kayak pas aku habis pendadaran kemaren. Ya, aku langsung pulang aja. Makan. Nggak ada ceremony kayak buhannya; upload di IG, dapetin buket, story full ucapan selamat, dll. Ya, niatnya pengen itu sih: Supaya nggak ngiri orang lain tu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 😂😂😂 iya sih bener2.. mending gitu. Karena org lain tak perlu selalu tau hehehe

      Delete
  3. gak semua minder gak boleh sih menurutku. Ada satu minder yang diperbolehkan dan bahkan sering dipakai. Ialah Re-minder, iya kan iya kan? hehe gak lucu ya? maaf

    oh ya Kak, ada satu ilmu yang mau aku bagi sama Kakak. Kakak pasti sudah tahu sih, mungkin ditulisan ini Kakak lagi hilaf, setahuku kata merubah itu seharusnya adalah mengubah, asal katanya dari ubah. hehe

    ReplyDelete
  4. Rendah hati boleh...
    rendah diri jangan....

    ReplyDelete
  5. Aku suka minderan, nih.
    Semangat!!

    ReplyDelete
  6. Setuju kak.. Makasih remindernya..

    ReplyDelete

Post a Comment