header marita’s palace

Uang dalam Pandangan

9 comments

doc : Gen20.xyz


Pernah dengar, kata-kata "Tidak semua di dunia ini bisa dibeli dengan uang, tapi kalau tidak ada uang lieur oge (pusing juga) sih."
Kutipan itu aku pernah mendengarnya dari seorang ustaz gaul di Bandung. Ust. Evi Effendi namanya. Dalam kesempatan sebuah ceramah yang beliau sampaikan. Menarik memang kata-kata itu, dengan penyampaian beliau yang khas dialek sunda membuat sebagian jama'ah yang hadir tertawa.

Betapa tidak, zaman sekarang uang seperti berada pada puncak kejayaan. Semua  mencari, semua membutuhkan. Segala sesuatu harus berbayar, buang kotoran sekalipun harus berbayar. Pokoknya kalau tidak ada uang lieur, Kalau tidak ada uang abang ditendang, kalau tidak ada uang pertemanan musnah, kalau tidak ada uang persaudaraan hancur. Miris memang hidup di zaman ini. Uang lagi uang terus.

Lalu, bagaimana kita seharusnya menyikapi uang? Bagaimana seharusnya kita memandang uang? Sebuah benda mati yang bisa mematikan yang bernyawa. 

Coba kita bayangkan sejenak jika uang bisa berbicara seperti ini "Namaku UANG… Aku tidak memiliki wajah cantik, fisik yang kuat, namun aku punya kemampuan untuk merombak tatanan dunia. Tapi aku tahu diriku suka berubah-ubah, susah dipredikisi, bisa sangat mahal, tiba-tiba bisa sangat murah, bahkan tidak ada nilai. Aku mampu merubah perilaku manusia. Manusia terhipnotis olehku. Entah…berapa banyak orang karena aku telah menjual kepribadian, tubuh, menghianati teman…memfitnah orang. Aku tidak mengerti mana orang shaleh dan bandit, tapi manusia memakaiku sebagai patokan derajat, menentukan kaya dan miskin. Aku juga bukan iblis, tapi ada orang yang demi aku bersedia melakukan kekejian. Aku juga bukan orang ketiga, tapi banyak suami-istri berpisah karenaku. Seharusnya aku melayani manusia, tapi kenapa justru kalian mau jadi budakku? Aku tidak pernah mengorbankan diriku untuk siapapun, tapi banyak orang rela mati demi aku. Ssstt....aku juga bukan Tuhan, tapi manusia menyembahku seperti menyembah Tuhan. Bahkan terkadang hamba-hamba Tuhan lebih menghormatiku daripada menghormati Tuhannya, padahal Tuhan sudah berpesan agar "Jangan jadi hamba uang"

Betapa bijak ucapan uang. Ucapan itu aku dapat dari status whatshapp seorang teman dan dari sebuah situs yang pernah aku kunjungi sehingga sulit bagiku untuk menelusuri sumber aslinya.

Ucapan uang itu harusnya membuat kita sadar, kenapa kita bisa sehina itu hanya karena benda mati.

Berbicara masalah uang pasti tidak ada habisnya, bahkan selalu sensitif jika dibicarakan. 

Intinya, uang itu benda mati. Maka perlakukanlah ia sebagaimana mestinya. Sebuah benda mati yang saat ini berfungsi sebagai alat tukar. Tidak lebih (nanti si uang ngelunjak, nah loh).

Uang itu punya nama lain duit. Coba jika kita rangkai empat huruf ini menjadi :
D o'a
U saha
I khtiar
T awakal
Indah bukan? 
Dalam mencarinya kita memang membutuhkan usaha, ikhtiar, doa serta tawakkal. 
Ketika kita sudah berusaha dan dibarengi doa, maka kita tidak akan pernah menjadi budaknya (uang). Kita tetap yang memegang kendali terhadap uang itu. Bukan sebaliknya.

Harusnya kita yang menjadi pemimpin untuk benda mati satu ini. Berbicara tentang pemimpin, ada kata-kata bijak 
"Pemimpin yang terbaik adalah yang paling memiliki penguasaan diri untuk dipimpin. Maka seorang Pendito Ratu haruslah a man of nothing to loose. Tak khawatir kehilangan apa-apa. Jangankan harta benda, simpanan uang, seribu perusahaan, tanah, gunung dan tambang. Sedangkan dirinya sendiripun sudah tak dimiliknya, sebab telah diberikan kepada Tuhan dan rakyatnya". (Emha Ainun Najib)

So, bijaklah dalam memandang uang. Jangan sampai dengan adanya uang kita berubah menjadi manusia yang sombong, angkuh bahkan merasa paling berkuasa bisa membeli apapun yang ada di muka bumi ini. Padahal faktanya tidak demikian.  Apakah waktu bisa kita beli dengan uang? Apakah cinta juga bisa kita beli dengan uang? Apakah rasa sayang bisa kita beli dengan uang? Tentu tidak es capucino cincau!.
Justru kita diperbudak oleh nafsu. Menjadi tidak rasional. Ingat, kebahagiaan bukan datang dari kepuasan nafsu. Tapi dari hati yang tulus ikhlas, yang masih terpaut dengan-Nya. 

Salam manis dari manusia yang sedang memperbaiki diri.
Cirebon, 06-02-2020
Maftuha
Seorang istri dari laki-laki bernama Muhidin Sidiq yang saat ini aktif dalam dunia tulis menulis. Menerima job content writer lepas, sudah menerbitkan buku berjudul "Dia yang Pergi" dan "This is My Way" juga belasan antologi lainnya. Penyuka buku motivasi juga psikologi yang hobi nongkrong di tempat makan untuk merefreshkan pikiran.

Related Posts

9 comments

  1. Semangaaaat si manis. Wkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk,,, asal jangan dari jembatan ye kaks

      Delete
  2. Uang si tuhan kecil... Cuman selembar kertas tapi bs memporak-porandakan segalanya..

    Semua butuh uang.. tapi uang bukan segalanya..

    Ajoorr juumm 🙈🙈

    ReplyDelete
  3. Mantap banget tulisannya. Bisa jadi fie riana nih. Yang pasti kita jangan mau dibeli dengan uang. Berteman pun kadang dinilai dr uang. Menyedihkan bagiku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Segala gala uang mbak. Tapi uang bukan segalanya. Gitu... Hehhehe
      Doa ne tak aamiin keun :D

      Delete
  4. Bener, mbak fie 'manis'. Kata orang uang tak bisa beli segalanya, tapi uang bisa bikin penderitaan jadi sedikit tertahankan.

    ReplyDelete
  5. Duh, itu kata-katanya .bener banget yaa. Benda mati yang bisa membunuh makhluk hidup. Serem banget kalau sudah diperbudak dengan uang.

    ReplyDelete

Post a Comment