header marita’s palace

Taubat? Nanti Dulu!

10 comments
Tepat, kemarin lusa dunia hiburan digemparkan dengan sebuah berita yang membuat netizen tercengang dan sulit percaya akan kabar berita tersebut. Seorang artis, aktor juga pemain sinetron yang masih gagah dan tampan dikabarkan meninggal dunia karena serangan jantung. Seketika berita ini menjadi viral sampai saat ini. 

Lalu, masih ada saja orang yang berkata “Taubat? Besok aja,” atau bahkan dengan sangat penuh percaya diri, nanti saja kalau sudah lanjut usia taubatnya. 

Huuuffftttt... tarik nafas panjang lalu hembuskan dengan luapan emosi jika mendengar jawaban dari pertanyaan tersebut. Sungguh, begitu sulit untuk dimengerti dengan jalan pikiran mereka yang berkata demikian. Kenapa mereka begitu yakin akan memiliki usia sampai lanjut usia. Kenapa mereka begitu yakin mereka pasti akan berjumpa dihari esok. Padahal beberapa detik, menit, jam hingga esok yang akan datang bukankah masih menjadi sebuah misteri? Apakah lupa dengan kalimat bahwa manusia hanya sebagai perencana, masalah terjadi atau tidak itu adalah kuasaNya. 

Pernahkah bertanya dalam diri, kenapa dalam sebuah forum ibu-ibu pengajian tidak terdapat anak-anak muda?. Apakah karena ada label kata ‘ibu’ sehingga remaja tidak ada didalamnya? Atau memang karena kalimat-kalimat yang terlontar di atas? Nanti saja, masih muda ini, nikmati saja dulu hidup. Sudah tua baru mencari bekal. 

Padahal, sudah berapa banyak kejadian disekitar yang menjelaskan bahwa kuasa sesungguhnya hanya ada pada-Nya. Salah satunya adalah contoh kisah artis di atas. Siapa yang mengira bahwa dia akan meninggal diusianya yang masih tergolong muda itu? Padahal, disaat yang bersamaan ada dibelahan dunia atau mungkin tetangga desa yang sudah renta dan sakit-sakitan tapi masih diberikan nafas oleh-Nya. 

Kejadian seperti ini bukan hanya satu atau dua kali terjadi disekitaran. Mungkin sudah sangat sering. Tapi kenapa masih tetap saja manusia itu bebal, dan terlalu yakin akan hal yang masih sangat tidak pasti. 

Anehnya lagi, kenapa harus menunggu nanti, jika ingin melakukan kebajikan. Kenapa harus menunggu menjadi renta untuk menyiapkan bekal. Apakah ada sebuah jaminan, bahwa hidup seorang manusia tergantung dari setiap pribadinya selama yang dia inginkan. Tapi sayangnya, jaminan itu tidak ada dan tidak akan pernah ada. 

Tidakkah sejak saat ini mulai berfikir, mulai berbenah dan mulai melakukan hal-hal yang lebih berguna dalam kehidupan, karena yang sangat dekat adalah maut (kematian). Kata ‘nanti’ seolah senjata dan menggambarkan bahwa tidak adanya penghargaan terhadap sebuah waktu. Nantinya kita itu tidak pernah sama dengan nanti akan kuasaNya. 

Waktu itu seperti sebuah pisau, jika bisa menggunakannya dengan baik maka akan bergunalah dia dan sangat bermanfaat bahkan dibutuhkan. Tapi, jika dibiarkan begitu saja dia akan lapuk dimakan karat, tidak berguna dan tidak berfungsi. Bahkan fatanya, bisa jadi dia dipergunakan oleh yang lain dan membunuhmu. 

Perihal waktu, dia tidak bisa bergerak mundur, yang dia tahu hanya bergerak maju. Pernahkah melihat atau mendengar begitu banyak orang yang menyesal hanya karena waktu. Meronta kemudian berandai-andai ingin kembali lagi ke masa yang sudah dilalui. Ingin berbenah dari waktu yang sudah terlewati. Bahkan, orang yang sudah meninggal sekalipun menyesal dan memohon untuk dikemabalikan lagi ke dunia dan memperbaiki diri. Tapi sangat disayangkan, jika badan sudah masuk kedalam liang lahat itu berarti sudah sangat terlambat untuk bisa memperbaiki semuanya. 

Jika sudah mengetahui hal-hal demikian, kenapa masih saja memilih untuk menjadi bebal? Setidaknya tidak perlu berandai-andai ingin kembali ke masa beberapa detik, menit, jam dan hari yang telah lalu. Saat ini berhentilah berandai-andai, selama badan belum masuk ke dalam liang, mulailah kembali dari awal. Biarkan yang lalu menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan. Berpacu maju dan bergarak ke depan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Mengubah kata ‘nanti’ menjadi ‘sekarang’. Mengubah kalimat ‘nanti saja’ menjadi ‘lebih baik sekarang’. 

Taubat? Jangan tunggu nanti. Karena tidak ada jaminan dalam kata nanti. Lakukan sekarang, jika tidak ingin menyesal kemudian. 

Maftuha
Seorang istri dari laki-laki bernama Muhidin Sidiq yang saat ini aktif dalam dunia tulis menulis. Menerima job content writer lepas, sudah menerbitkan buku berjudul "Dia yang Pergi" dan "This is My Way" juga belasan antologi lainnya. Penyuka buku motivasi juga psikologi yang hobi nongkrong di tempat makan untuk merefreshkan pikiran.

Related Posts

10 comments

  1. Bener dek.. aku pun terkejut. Si artis dulunya suka (maaf) foya foya. Dan skrng meninggal tidak membawa apa-apa. Miris juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Artisnya hanya contoh heee, lebih ke mawas diri pribadi. Jadi reminder heee

      Delete
  2. Benar, kematian nggak melihat usia dan datang kapan saja tanpa kita tahu. Kita hanya perlu mempersiapkan diri.

    ReplyDelete
  3. Galfok sama komiknya hahahah

    ReplyDelete
  4. Taubat yang sejati.. perlu guru mursyid yang haq..

    Karena taubat bukan cuma urusan lisan. Namun juga menyangkut hati yang tak kasat mata...

    ReplyDelete

Post a Comment