Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 dalam daftar negara (dan dependensi) berdasarkan populasi. Sekiranya sebanyak 3,47% dari total populasi dunia (data woldmeters pada bulan Januari tahun 2026). Dengan padatnya jumlah penduduk tersebut, setidaknya dalam satu hari dapat menghasilkan 144.000 ton sampah (bisinis.com 20 April 2026). Masalah sampah di Indonesia ini bukan lagi hal yang tabu untuk dibicarakan. Dengan adanya data tersebut lahirlah sebuah pertanyaan bisakah Indonesia mewujudkan ekonomi sirkular dari sampah?
Kampanye untuk pemilahan sampah sudah sering digaungkan. Namun rasanya masih banyak sekali masyarakat yang acuh terkait pemilahan sampah ini. Oleh karenanya kampanye ini masih dan harus selalu digaungkan.
Diberbagai forum dunia, ekonomi sirkular kerap menjadi bahasan untuk menjadikan perekonomian menjadi lebih berkelanjutan. Agar lebih memahami tentang ekonomi sirkular, berikut penjelasannya.
Memahami definisi ekonomi sirkular, prinsip serta manfaatnya
Ekonomi sirkular adalah sebuah sistem atau model ekonomi yang bertujuan untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi dengan mempertahankan nilai dari sebuah produk, bahan, dan sumber daya selama mungkin.
Dikutip dari laman kompas.com dikutip dari situs web parlemen eropa, ekonomi sirkular mengusung tiga pilar sebagai modelnya yaitu less raw material (lebih sedikit bahan baku), less waste (lebih sedikit sampah), dan fewer emission (lebih seidkit emisi).
Prsinsip dari ekonomi sirkular sendiri adalah mengefisiensikan dan mengkonservasi sumber daya alam, mengelola limbah serta menjadikan bagaimana sebuah produk dapat bertahan lebih lama dan juga mencegah pencemaran dan pengendalian dampak lingkungan yang saling terintegrasi. Sehingga, melalui ekonomi sirkular masyarakat dapat mencapai lebih banyak dari sebuah produk serta bahan dengan tetap melalui proses pemeliharaan, penggunaan kembali, perbaikan, produksi ulang, daur ulang sampai pada pengomposan.
Dilihat dari prinsipnya, maka ekonomi sirkular tentu saja memilki manfaat dari segi sumber daya hingga aspek ekonomi sosial meliputi pengurangan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh sampah, menurunkan tekanan terhadap sumber daya alam, menciptakan peluang usaha lapangan kerja hijau serta mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan.
Melihat peluang sampah menjadi sumber ekonomi berkelanjutan
Berdasarkan data penghasilan sampah di atas, sudah saatnya masyarakat cerdas dalam melihat peluang dari sampah untuk menjadikan sumber ekonomi yang berkelanjutan. Menjadikan pengelolaan sampah sebagai wadah atau pemberdayaan masyarakat mewujudkan ekonomi sirkular atau ekonomi yang berkelanjutan .
Di Bandung, ada sebuah Yayasan Solusi Bersinar Indonesia yang sudah memulai melihat peluang dari sampah. Bersama dengan organisasi sosial Bank Sampah Induk Bersinar menargetkan sebanyak 1000 bank sampah unit (bsu) untuk mendukung ekonomi sirkular Indonesia.
Dengan melihat peluang yang dihasilkan dari sampah, seharusnya kini sampah bukan lagi menjadi persoalan yang tidak kunjung selesai. Sampah tidak lagi dilihat sebagai benda atau barang yang tidak memiliki nilai. Peluang ini tentu saja bisa diterapkan dimulai dari lingkup terkecil yakni keluarga dari setiap rumah.
Bank Sampah Induk Bersinar hadir sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah.
Sebuah organisasi yang didirikan oleh ibu Fifie Rahardja pada tahun 2014 yaitu Bank Sampah Induk Bersinar hadir ditengah masyarakat kabupaten Bandung untuk mewujudkan 1000 bank sampah unit yang akan mulai dikembangkan di kawasan Oxbow menjadikan program ini menjadi fondasi pembangunan living laboratory ekonomi sirkular Indonesia.
Bank Sampah Induk Bersinar melalui ekosistem yang ada, mengintegrasikan lokal edukasi dan lumbung mandiri sebagai model pemberdayaan masyarakat yang menghubungkan pengolahan sampah, pendidikan lingkungan , ketahanan pangan hingga pengembangan ekonomi lokal dalam satu kawasan terpadu.
Saat ini, sebanyak 547 bank sampah unit sudah bergabung dengan jaringan Bank Sampah Induk Bersinar dan menjadi mitra penggerak perubahan diwilayah kabupaten Bandung dan kota Bandung. Selain memperluas jaringan, Bank Sampah Induk Bersinar bersama Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) melakukan penguatan kelembagaan dengan menyusun standar oprasional prosedur, sistem administrasi, indikator kinerja, pengembangan sumber daya manusia, hingga sistem pelaporan yang profesional, transparan dan akuntabel.
Dalam upaya peningkatan tersebut, sekolah menjadi bagian terpenting dalam gerakan ini. Karena Bank Sampah Bersinar Indonesia melakukan program edukasi ke lingkungan sekolah dengan harapan kelak sekolah sebagai pusat edukasi dan contoh praktik baik dalam pengelolaan sampah bagi masyarakat sekitarnya.
Dalam upaya proses pengembangan, tim dari YSBI juga melakukan studi ke Living Lab Telkom University untuk mempelajari model pengelolaan kawasan yang saling terintegrasi dengan pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, YSBI juga berkolaborasi dengan Pentahelix Indonesia Bersinar yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas serta media untuk bersama memabangun solusi nyata di bidang lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar. Karena kedepannya, YSBI juga membuka peluang untuk dapat berkerjasama dengan pemerintah daerah, perguruan tingi, komunitas, organisasi masyarakat, media, serta para profesional yang memiliki visi yang sama, membangun Indonesia yang lebih bersinar, bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Dari pemaparan di atas, jika Indonesia ingin mewujudkan ekonomi sirkular melalui sampah sangat memungkinkan untuk diwujudkan jika semua elemen masyarakat memiliki visi yang sama bersama.
#IndonesiaBersinar #EkonomiSirkularIndonesia#BankSampahIndukBersinar
#LivingLaboratory
#PentahelixIndonesia
#KelolaSampah




Post a Comment
Post a Comment